Action Assembly Theory / Teori Kumpulan Aksi (John Greene : 1984)
John Greene dalam teorinya Action Assembly Theory menjelaskan tentang
cara seseorang mengorganisasikan pengetahuan dengan pikiran dan
menggunakannya untuk membentuk pesan. Teori ini menjelaskan struktur dan
proses yang tersebut dalam aksi komunikatif. Teori ini menguji cara
pengetahuan diurutkan dan digunakan dalam komunikasi.
Greene menyebut dua komponen pengetahuan yakni pengetahuan isi (content
knowledge) dan pengetahuan prosedural (procedural knowledge). You know
about things, and you know how to do things (Terjemahan: Anda tahu
tentang sesuatu, dan Anda tahu bagaimana melakukan sesuatu itu).
Pengetahuan procedural terdiri dari suatu kesadaran akan konsekuensi
dari berbagai aksi dalam situasi-situasi yang berbeda. Seluruh
pengetahuan procedural kita terdiri dari sejumlah besar “catatan
prosedural”, masing-masing disusun dari pengetahuan mengenai suatu aksi,
hasilnya, dan situasi dimana ia sesuai. Karena orang ingat dari hasil
aksi, mereka dapat berperilaku dengan efektif pada kesempatan mendatang.
Sebagai contoh, bagaimana kita tahu cara-cara memeperkenalkan diri
kepada orang lain pada suatu pesta? Dari pengalaman dan pegamatan
terhadap orang lain yang melakukan hal itu, kita memiliki pengetahuan
berbagai macam cara.
Dalam Action Assembly Theory, procedural knowledge menjadi pusat
perhatian utama. Greene menggambarkan cara kerja procedural knowledge
seperti titik-titik (node) yang saling terhubung satu sama lain bagaikan
website di internet. Node pengetahuan tersebut terutama yang berkaitan
dengan perilaku, konsekuensi dan situasi.
Greene memberi contoh ketika kita berjumpa seseorang, biasanya kita
akan tersenyum dan mengucapkan, “Hai, apa kabar?” dan kemudian orang
tersebut akan membalasnya dengan berkata, “Baik, bagaimana kabar Anda
juga?”. Kita menyimpan ini dalam memori sebagai suatu pengetahuan yang
saling berhubungan antara situasi menyapa seseorang, tindakan tersenyum,
menggunakan kata-kata tertentu, dan mendapatkan hasil berupa balasan
sapaan dari orang lain.
Pada kasus yang lebih kompleks, hal-hal yang saling berkaitan semacam
itu, di mana pada prosedur tertentu terdapat hubungan yang paling sering
digunakan atau yang terakhir digunakan –sehingga menjadi semakin kuat,
maka node pengetahuan itu akan membentuk modul-modul atau pola. Greene
menyebut modul-modu tersebut sebagai procedural record, yaitu sekumpulan
hubungan yang terbentuk oleh node dalam kegiatan jaringan yang
cenderung menguat.
Lebih lanjut, Greene juga menjelaskan bahwa jika hubungan pengetahuan
tersebut menjelma menjadi beberapa himpunan kegiatan dalam urutan
tindakan tertentu yang secara kuat saling berkelompok dan sering
digunakan, maka akan menjadi tindakan yang terprogram. Greene
mengistilahkan tindakan terprogram ini sebagai “unitilized assemblies”.
Ritual memberikan salam seperti yang dipaparkan di atas merupakan contoh
yang bagus mengenai “unitilized assemblies”.
Menurut Greene, tidak ada tindakan tunggal yang dapat berdiri sendiri.
Setiap tindakan memengaruhi tindakan yang lain dengan suatu cara
tertentu. Untuk memperkenalkan diri misalnya, kita harus menggunakan
berbagai tindakan mulai dari tekanan suara dengan kata-kata dan gerakan.
Untuk menuliskan paragraf, kita harus menggabungkan berbagai aksi dari
pengetahuan yang terkordinasi dalam bahasa untuk menulis atau mengetik.
Tindakan tersebut kemudian diintegrasikan ke dalam jaringan pengetahuan.
Setiap bagian pengetahuan merepresentasikan sesuatu untuk melakukannya.
Tujuan yang lebih tinggi (seperti melakukan perkenalan) dan yang lebih
rendah (seperti tersenyum) digabungkan dalam sebuah hasil representasi
yang mengantarkan kita ke suatu tindakan komunikasi. (Littlejohn, 2005:
193-195).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar